Lima Juta Rupiah Saja…
Ini adalah kisah dari teman saya, sebut saja Ibu Sonya yang ingin memindahkan anaknya, sebut saja Putri, ke sebuah SD yang lebih baik. Selama ini Putri sudah bersekolah di sebuah SD dekat rumahnya, namun karena si Putri lumayan pintar dan di sekolahnya sekarang nyaris tak ada saingan berarti, sang bunda ingin memindahkan ke sebuah SD Negeri yang menjadi favorit di kawasan timur Jakarta.
Ketika datang ke sekolah, Ibu Sonya tak bisa langsung bertemu sang kepala sekolah favorit. Maka Ibu Sonya pun berhasil menemui “Kepala Humas” sekolah tersebut, tentu setelah menunggu cukup lama. “Kepala Humas” adalah wanita cantik nan sibuk, terlihat antrian panjang untuk menemuinya, dan untuk menopang kesibukannya, sang Kepala Humas SD tersebut membekali diri dengan dua buah Nokia 9500 Communicator.
Setelah melihat nilai rapor Putri yang fenomenal, sang Ibu Humas bilang, “Sebenernya sih udah penuh semua, tapi melihat nilai ini, rasanya bisa diusahakan. Nah, karena peminat sekolah ini banyak, maka “tarif” masuknya cukup lima juta rupiah saja. Lima juta itu kecil, lho Bu. Kan nantinya Putri gak perlu bayar, karena udah ditanggung BOS dari pemerintah.” Tak jelas, buat apa uang lima juta rupiah itu.
Ibu Sonya sangat kaget dengan angka lima juta rupiah itu, dan dengan nekad campur menahan malu, ia menawar sampai satu juta rupiah. Tentu saja harga satu juta rupiah ditolak si Ibu Humas, lha wong ini sekolah favorit, masih banyak yang mau ambil meski nilainya di bawah Putri.
Sang Ibu Humas dengan arif bijaksana meminta Ibu Sonya pulang dan menyarankan untuk menabung dulu, kelak jika tabungan sudah cukup, barulah Putri dipindahkan ke sekolah tersebut. Akhirnya dengan nekad Ibu Sonya datang lagi beberapa hari kemudian dengan membawa amplop berisi uang tunai dua juta rupiah.
”Terserah deh, Bu. Ini saya hanya ada uang segini. Pokoknya anak saya bisa sekolah di sini. Mau ditaruh di atas genteng atau di depan pintu juga gak apa-apa, yang penting bisa sekolah di sini”. Ibu Sonya dengan wajah dibuat gloomy.
”Eh ini ada berapa?” tanya sang Ibu Humas. Setelah diberitahu isinya ada dua juta rupiah, ia dengan wajah agak masam berkata” Ya sudah, tapi janji ya, nanti bulan Desember kalo ada rezeki ditambahin…”
Walhasil, sukseslah Putri masuk sekolah favorit itu, dengan modal dua juta rupiah, wajah gloomy dan mental nekad sang Bunda…
Guru kita, ternyata tak luput juga dari mental koruptif. Apa kata dunia?

Seperti biasa, dunia hanya diam tak bersuara …
Betul Mas, malah si Ibu Sonya wanti-wanti saya untuk tidak menulis ini. Takut nanti ada yang merasa tersinggung maka nasib anaknya bisa gak jelas di sekolah itu.
mmm… manusia-manusia liar…. tak berperasaan…
Sedih ya Rul, ngeliat orang-orang yang bertanggung jawab menjadi pendidik, malah bersikap seperti iyu.