Karena Gue Cinta Indonesia; Sebuah Catatan Kecil dari Senayan
Ketika tahu saya akan datang ke GBK untuk menonton pertandingan Indonesia vs Korea, seorang rekan di kantor bilang ”mau kecewa kok bayar”. Saya hanya tersenyum. Saya tahu akan sulit sekali kita akan menang.

Ada yang bertanya: kenapa tetap ke stadion?
Jawab saya: Karena saya tahu mereka tetap berjuang dengan semua yang mereka miliki. Mereka gigih menutupi kekurangan teknis dan fisik dengan semangat membara dan jiwa patriotisme. Supporter terus mendukung mereka dengan membahana, karena kami –supporter Indonesia- tak lagi melihat ada yang layak didukung dalam keseharian yang lain.
Tanya: Tidakkah olah raga yang lain begitu juga?
Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu, apakah ada yang bisa mengumpulkan 88 ribu manusia Indonesia di dalam stadion dan 30 ribu lainnya di luar stadion bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan hikmat dan haru. Mereka datang dari Lampung, Makassar, Solo, Surabaya, Malang, Bandung dengan ikhlas. Antri berhari-hari demi menunjukkan bahwa di Indonesia masih ada yang bisa diabanggakan.
Beberapa teman mencela timnas Indonesia dan mencoba menunjukkan bahwa dukungan saya akan sia-sia. Baiklah. Tapi bukankah memilih bersatu mendukung perjuangan adalah lebih baik daripada terdiam dan mencela kesalahan orang lain?

Pertandingan kemarin adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada harapan untuk memperoleh kemenangan dan mengukir sejarah, tapi harapan itu sendiri diam-diam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam pertandingan sepakbola supporter di stadion adalah orang yang siap kecewa dan pemain siap untuk dicaci. Sepakbola adalah permainan, kemenangan dan kekalahan adalah sesuatu yang melekat. Kami sadar akan hal itu. Pada setiap pertandingan ada risiko kekalahan. Setiap dukungan ada risiko kepedihan. Sebab ada yang tersingkir di sana.
Akhirnya, saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Timnas Indonesia bukanlah tim megabintang seperti Brasil atau Italia. Tak akan mengejutkan bila nanti kita kalah, atau kita melihat sesuatu yang tak beres di sana. Setidaknya dalam kompetisi, PSSI adalah salah satu contoh yang
sering terjadi di Indonesia: ‘mismanagement’.
Seandainya PSSI diisi para profesional sepakbola, bukan politisi yang mencari suara, bukan pengusaha yang cuma cari nama, atau golongan tua yang umumnya dahsyat dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja, hasilnya pasti akan lain.
Untunglah, masih ada supporter Indonesia yang ”benar”. Mereka bernyanyi sepanjang pertandingan, memuji pemain meski kalah; karena mereka menilai pemain dari perjuangan yang diberikan, bukan sekedar hasil akhir.
Saya tak ingat kapan saya merasa bangga menyanyikan Indonesia Raya dengan sungguh-sungguh. Tapi kemarin, paduan suara 88 ribu supporter Indonesia membuat buku kuduk saya berdiri, kibaran bendera merah putih membuat air mata saya mengalir pelan.
Air mata haru kembali memaksa keluar, ketika menit-menit akhir pertandingan, dimulai oleh ribuan penonton dari belakang gawang Markus Harrison menyanyikan lagu Indonesia Raya meski dengan suara parau, kombinasi kelelahan dan kesedihan. Lagu tersebut memang mampu memompa semangat pemain, tapi apa daya, tenaga yang benar-benar habis terkuras dan kualitas teknik yang di bawah lawan membuat semangat dan perjuangan mereka tak membawa hasil maksimal.
Sebagai supporter yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada kemenangan lain dalam Piala Asia kali ini. Yang juga menang adalah sebuah rasa kebangsaan yang bernama ‘Indonesia’.
Secara kasat mata, ternyata seluruh supporter datang dan bersatu tanpa ada sentimen SARA apapun. Bersatu, bernyanyi, dan berteriak membahana; Indonesia! Indonesia! Indonesia! Tak ada pekik kesukuan, etnis, atau simbol agama apapun. Di sebelah saya berkulit terang, bermata sipit, gadis-gadis ABG cantik keturunan Tionghoa dengan bangga memakai kaus bertulis ”Indonesia” besar di dadanya, sang pria dengan bangga mengalungkan bendera merah putih di lehernya, menjadi bak Superman. Di sektor sebelah saya bule-bule berkaus merah putih, dengan jelas teriak-teriak dan ikut bernyanyi, ”Yo ayo, Ayo Indonesia… Kuingin, Engkau Harus Menang….”
Tak ada anarki, semua bernyanyi, bahkan ketika kekalahan terjadi. Lagu wajib ”Yo ayo, Ayo Indonesia… Kuingin, Engkau Harus Menang….” masih membahana meski dengan kepala tertunduk dan wajah sedih. Kami pulang dengan langkah pelan.
Maka haruskah saya terus merasa sedih? Saya pandangi kaus putih bertuliskan Indonesia di dada saya. Tiba-tiba saya tergerak untuk mencium lambang Burung Garuda, ”Karena Gue Cinta Indonesia”….
(diilhami tulisan Gunawan Mohammad: Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah, 2004)

apakah ada yang bisa mengumpulkan satu keluarga, dari orang tua sampai anaknya paling kecil, -walaupun tidak tau apa yang diliat tapi mengerti indonesia itu hijau dan putih- apakah ada yang bisa membuat pengungsi disebelah rumahnya sejenak melupakan masalah mereka..dan ikut nimbrung dirumah mereka tumplek blek *termasuk saya*
Karena jawabannya hanya satu.. diatas pundak tim inilah rasa bangga terhadap indonesia tumbuh, rasa yang tak akan tergantikan oleh apapun, rasa yang membuat kita tidak malu untuk berteriak ‘indonesia’, setelah sekian lama dilupakan oleh para pemimpin bangsa ini, kebanggaan yang dengan sadar kita bertaruh bahwa 85% kita akan kalah tapi kebanggaan yang tersisa 15% itu telah mengalahkan semuanya..
dan dengan jujur aku boleh berkata ‘karena gue cinta indonesia’ saat ini.. entah besok.. entah lusa…. sambil menantikan timnas berlaga kembali….
*dengan hormat*
speechless
*ingat moment Indonesia Raya dinyanyikan*
wah….. bagus mas!! saya juga sependapat, mendengar cerita mas saya akan bangga dng indonesia sampai kapanpun krn indonesia mempunyai sejarah yg panjang & indah
@mirza
terima kasih
Lha tulisan mas ini di coppas karena emang bagus
@Hari
masalahnya bukan bagus-gak bagus. Tapi masalah etika dan sopan santun.
Kalo jujur kan lebih enak
Kalo tulisan bagus lebih berpeluang membangkit niat ‘nyuri’ mas, apalagi di media terbuka dan gratis seperti blog. Mungkin karena dulu waktu SD sering ada tugas bikin kliping.
Tapi emang saya sependapat, kalo jujur jadinya sama-sama enak.
@Hari
Waktu SD bikin kliping juga harus disebutkan sumber media dan tanggal terbitnya lho.
Btw, ambil hikmahnya aja, berarti tulisan ini dianggap “bagus”
dan emang bener…tulisan ini bagus
*jempol!
@uwiuw
thank ya