Lanjut ke konten

Shuttle Bus Trans Bintaro; Sebuah Catatan

Agustus 23, 2007

Saya dulu sempat ingin mengalihkan perjalanan saya dari membawa kendaraan pribadi menjadi naik Trans Bintaro. Namun sejak saya mencoba naik Trans Bintaro pada bulan November 2006, saya membatalkan niat tersebut dan tetap membawa kendaraan pribadi.

Penyebabnya adalah Trans Bintaro seringkali tidak konsisten. Banyak penumpang naik tanpa membeli tiket terlebih dahulu dan uang diberikan langsung kepada kru angkutan di atas bus. Awak Bus juga suka menaikkan penumpang bukan di halte yang ditentukan, misalnya menaikkan penumpang di depan Restoran Wong Solo di seberang BTC. Bahkan, pada hari Kamis, 30 November 2006, sekitar pukul 19.00, bus Trans Bintaro tersebut menaikkan penumpang di tengah jalan, tepatnya di pertigaan Jl. Hang Lekir – Jl. Asia Afrika, di depan Gedung Serbaguna Deplu. Tindakan tercela ini tidak berbeda dengan sopir angkutan kota lainnya dan mengakibatkan banyak kendaraan dari arah Plaza Senayan dan Bunderan Senayan yang menekan klakson sebagai tanda kekesalan.

Selama ini bus Trans Bintaro tidak melalui jalur yang seperti tertulis di tiket. Setelah masuk di pintu tol dekat Jl. Ciputat Raya, bus justru keluar lagi di pintu tol Veteran dan masuk jalan Veteran. Di sinilah banyak penumpang yang turun. Perjalanan pun diteruskan menembus kemacetan Jl. Veteran – Jl. Kesehatan. Sampai sekitar Sektor I, di depan Hero (dulu Tops Supermaket), bus kembali menurunkan penumpang dan kembali masuk tol di pintu tol Bintaro 1, menuju pintu tol Pondok Ranji (Bintaro Jaya Sektor VII)

Saya tidak mempermasalahkan rute yang ditempuh, sepanjang hal tersebut dikomunikasikan kepada penumpang dan sesuai dengan rute yang dipublikasikan. Selama ini, seperti yang tercantum dalam tiket, leaflet, dan di majalah komunitas Kicau Bintaro, semua menyebutkan bahwa jalur Sudirman-Bintaro yang digunakan adalah tol Pondok Indah langsung menuju pintu tol Pondok Ranji, bukan keluar dulu di Jl. Veteran. Hal ini terkesan sepele, namun sangat menyita waktu penumpang lain yang menuju Sektor VII atau IX seperti saya.

Bukankah tindakan seperti ini tidak diperbolehkan dalam UU Perlindungan Konsumen? Saya berharap ini bukanlah semata akal-akalan awak bus Trans Bintaro untuk mencari tambahan penghasilan dengan mengorbankan kepentingan penumpang lainnya.

Sebaiknya jika Trans Bintaro ingin meng-entertain warga di sekitar Sektor I – III, sebaiknya dioperasikan saja bis yang berbeda. Atau jangan menulis jalur seperti seperti yang dipublikasikan sekarang, agar penumpang tidak merasa tertipu.

10 Komentar leave one →
  1. Agustus 27, 2007 8:59 am

    Mungkin itu bentuk kompromi antara sebagian besar penumpang dengan supir bis .. bukankah negara ini senang dengan kompromi? walaupun itu menimbulkan ketidak-disiplinan dan ketidak-konsistenan. Yang penting semua sebagian senang .. padahal ada sebagian kecil yang dirugikan.

  2. Agustus 27, 2007 9:18 am

    He he he, bener kata Bang Erander: Kompromi. Masalahnya kata itu seringkali merupakan pembenaran atas sebuah kesalahan. Akhirnya hal-hal semacam itu jadi dianggap sesuatu yang wajar dan legal. Repot memang :P

  3. November 5, 2007 8:00 pm

    Apakah sudah disampaikan ke manajemen Trans Bintaro ?

  4. November 6, 2007 8:36 am

    Saya sangsi Mbak. Soalnya pernah diberikan lembar kuesioner kepada penumpang, namun pengembaliannya dititipkan pada awak bus sendiri…

  5. Bulan permalink
    Maret 3, 2008 11:32 am

    Benar tuh

    Sdh beberapa kali saya naik trans bintaro
    kejadian nya spt itu

    Penumpang tdk diberkan tiket

    Awak bus rupanya tdk berpikir panjang
    Kalau uang tdk disetor
    perusahaan bus trans bintaro bisa bangkrut
    Kalau bangkrut kan mereka akan di PHK

    Wahhhhhhhh
    mikirnya koq pedek banget

    Mudah2an saja mereka sadar
    dan memperbaiki diri

  6. Maret 3, 2008 1:15 pm

    @Bulan

    Ternyata sampai sekarang masih begitu ya Mbak?
    Kapan kita bisa tertib kalo begini, semoga aja harapan Mbak Bulan bisa terpenuhi :)

  7. santosa permalink
    Desember 9, 2008 2:50 pm

    Numpang tanya dong, kalo kita dari Ratu Plaza mau naik Trans Bintaro, naiknya disebelah mana apakah ada halte untuk beli tiket dan tarifnya berapa?

    Maaf lo, soalnya saya baru tinggal di Bintaro.
    Terima kasih sebelumnya.
    Japri aja yach…………..

    C Santosa

  8. Desember 9, 2008 3:11 pm

    @Santosa

    Untuk naik Trans Bintaro, naiknya di halte tepat di depan Ratu Plaza. Di sana ada mbak-mbak berjilbab yang jualan tiket. Tanya aja sama orang-orang yang ada di sana, nanti di kasih tahu. Kalau gak ada mbak-nya, naik aja langsung di Bus, nanti ketika kondektur periksa tiket, bayar langsung aja di atas Bus.

    Semoga membantu

  9. Gwen permalink
    Februari 2, 2009 12:37 pm

    .. trans bintaro itu yang di depan carefour kan, kalo kantor saya di mampang, dari sana turun di mana ya?, terima kasih

  10. Februari 3, 2009 9:20 am

    @Gwen

    Rasanya agak repot untuk sampai Mampang. Setahu saya, maksimal Anda turun di Ratu Plaza. Dari sana Anda naik Kopaja 66 menuju Kuningan, sampai perempatan Kuningan-Mampang, dan melanjutkan lagi dengan Busway Koridor 6 (Dukuh Atas-Ragunan) atau naik Kopaja 20 (Senen-Lebak Bulus). Sedikit repot sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: