Sudah Bayar Tetap Dikejar

2008 Februari 27
by n0vri

Malang benar nasib pedagang asongan di KRL. Sudah bayar, tetap dikejar-kejar. Itulah cerita yang saya dengar dari seorang pedagang asongan di KRL Sudirman Ekspress beberapa waktu lalu.

Saya heran, si pedagang menyembunyikan dagangannya di dalam tas ransel yang agak besar. Rupanya sedang ada operasi gabungan yang merazia para pedagang di KRL. Menurutnya, jika ada operasi begini, jangan sampai tertangkap, kalau tertangkap maka seluruh dagangannya akan disita dan tak bisa diambil lagi. Berbeda jika razia dilakukan oleh petugas KA biasa bukan gabungan dengan pihak lain, maka pedagang makanan ringan bisa menebus dagangannya dengan uang 25.000. Jika barang dagangannya adalah beraeka macam jepit rambut, gunting kuku, sisir plastik dll itu, maka si pedagang harus membayar 100.000 rupiah untuk bisa menebus dagangannya.

Padahal, untuk bisa berjualan di stasiun Sudirman itu, si pedagang harus membayar uang mingguan 15.000 rupiah, uang bulanan 7.000 rupiah, dan ”uang kebersihan” 2.000 rupiah per hari. Total dalam sebulan ia harus membayar 111.000 rupiah per bulan; atau lebih dari 5000 per hari harus disisihkan untuk bermacam pungutan itu. Pungutan itu jelas masuk ke kantong pegawai KAI, karena menurutnya, di stasiun Sudirman itu tak ada preman seperti di Manggarai atau Tanah Abang.

Dari hasil obrolan, saya menarik asumsi bahwa keuntungan bersih dari setiap bungkus kacang adalah 400 rupiah, maka jika si pedagang mampu menjual 13 bungkus kacang, ia baru bisa menutup ’setoran wajib’ nya di stasiun, belum lagi uang makan dan ongkosnya dari rumah menuju stasiun.

’Uang jago’, ’uang keamanan’, ’uang kebersihan’ dan sejuta jenis pungutan liar di lingkungan stasiun itu merupakan potret yang merepresentasi para pegawai yang berkait dengan kenyamanan dan kemanan fasilitas publik di negeri ini. Jadi, tak perlu bicara mengenai jadwal kereta atau kenyamanan di perjalanan, untuk me-manage sebuah stasiun kecil seperti Stasiun Sudirman pun, pihak PT Kereta Api Indonesia masih belum mampu.

2 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Februari 19
    arya permalink

    Salam kenal Pak Novri,

    Sudah hampir setahun umur postingannya, tapi kejadian yg sama masih terjadi. 3 bulan sejak saya beralih dr KRL ekonomi AC Ciujung ke KRL Sudirman ekspress karena pindah kerja. Di stasiun sudimara pasti ada pedagang yg naik.
    Yg saya sorot disini adalah sesama penumpang yg notabene semua memegang HP, mayoritas blackberry. Saya asumsikan mereka semua bisa membaca.
    Meskipun sudah ada himbauan dan larangan tentang jual-beli di dalam KRL ini. Para pembeli yg notabene bisa membaca ini tidak peduli dan tetap melakukan transaksi di atas kereta.
    Ini yg membuat kejadian selalu berulang. Mulai dari pedagang nekat berjualan, petugas KAI melakukan pungli, sampai kepada penumpang yg terus beli.
    Saya mohon semua penumpang KRL Sudirman Ekspess yg membaca tulisan ini segera instropeksi diri utk memutus rantai yang merusak budaya jujur dan patuh ini.
    Lakukan saja transaksi setelah turun dari kereta dan di tempat yg telah disedakan utk berjualan (mudah2an ada).
    Bagaimanam pendapat dan usul Pak Novri ?

  2. 2009 Februari 19

    @Arya

    Anda benar Mas. Penumpang juga seharusnya bisa menunjukkan cara bertingkah laku yang benar sehingga aturan bisa berjalan dengan baik. Tidak hanya sekedar belanja di atas kereta, tapi hal-hal lain yang sangat mendasar saja banyak penumpang yang abai. Misalnya membuang sampah dan membeli tiket.

    Jika Anda antri menunggu kereta di stasiun Sudirman, perhatikan. Banyak orang kantoran yang berbaju rapi, membawa blackberry, berdandan, tapi jorok, membuang sampah sembarangan. Ajaibnya lagi, masih ada satu-dua orang yang nekat naik tanpa tiket, dengan alasan buru-buru karena kereta sudah mau jalan. Alasan takut tertinggal ini menurut saya tidak relevan, karena toh kereta Sudirman Ekpress seumur-umur tidak pernah tepat waktu alias molor terus :P

    Salam kenal kembali dari saya :)

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS