Perbankan Meniti Krisis

2008 Juli 1
by n0vri

Artikel saya ini telah dimuat/diterbitkan di kolom Opini pada Harian Kontan, Senin 30 Juni 2008, hal. 23

Dampak krisis Tiga- F; food, fuel, dan financial, membuat pelaku pasar ragu akan prospek sektor perbankan. Apalagi terdapat indikasi meningkatnya kredit macet (NPL) dan turunnya net interest margin (NIM) mulai menghiasi laporan keuangan perbankan.

Menurunnya minat pelaku pasar terhadap industri keuangan mulai terjadi pasca kenaikan BI rate 25 basis poin menjadi level 8,50%. Para pelaku pasar saham umumnya menilai, kemungkinan BI rate untuk naik lagi pada waktu mendatang masih cukup besar. Krisis Tiga-F yang masih berlanjut dan berdampak pada naiknya inflasi akan terus menurunkan daya beli masyarakat sehingga pada akhirnya akan berimbas pada melemahnya sektor riil. Alhasil, investor meragukan apakah target yang direncanakan perbankan akan tercapai.

Apalagi berdasarkan statistik perbankan yang dirilis BI laba sejumlah bank umum cenderung turun. Data per April 2008 menunjukkan ada trend penurunan sampai 7% secara year on year.

Kondisi ini dikhawatirkan pelaku pasar saham bisa mengurangi kinerja bank karena terganggunya fungsi intermediasi. Suku bunga bank pasti akan meningkat seiring kenaikan BI rate. Kekhawatiran ini tercermin dari pergerakan indeks sektor keuangan yang ikut menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan IHSG.

Beberapa bank mengalami penurunan harga saham karena bank-bank tersebut terkait dengan specific risk yang melekat pada masing-masing bank. Yaitu bank yang memiliki portfolio investasi yang cukup besar dalam Surat Utang Negara yang harganya sedang tertekan. Hal ini memicu sentimen negatif karena dikhawatirkan bank yang memiliki portfolio yang besar di SUN akan tergerus perolehan labanya.

Dampak krisis Tiga-F juga akan cukup besar berpengaruh pada tingkat pertumbuhan laba perbankan tahun ini, terutama disebabkan harga minyak dunia dan ekpektasi inflasi yang masih tinggi.

Sementara itu, memburuknya outlook ekonomi telah memaksa bank untuk meningkatkan provisinya, sehingga turut pula berpengaruh pada laba perbankan. Kenaikan BI rate juga akan meningkatkan cost of fund bagi bank. Akibatnya, bank-bank yang profil dana pihak ketiganya didominasi oleh dana mahal seperti deposito akan sangat sulit diharapkan bisa tumbuh maksimal.

Perbankan akan sulit menyalurkan kreditnya mengingat hampir semua sektor industri terkena imbas langsung inflasi dan kenaikan suku bunga bank, terutama sektor-sektor yang terkait dengan energi, manufaktur, transportasi, makanan, dan konsumsi.

Sektor Prospektif
Kini, perbankan mencoba untuk meniti krisis dengan aktif menyalurkan kredit ke sektor industri yang dianggap prospektif, salah satunya sektor agribisnis. Ini terkait dengan tingginya harga dan tingkat permintaan terhadap berbagai produk komoditas, baik di pasaran domestik maupun di pasaran dunia, seperti kelapa sawit.

Selama periode April 2007-2008, jumlah kredit perbankan yang diluncurkan ke sektor agribisnis meningkat 37%. Jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit secara keseluruhan yang mencapai 29%.

Sayangnya, banyak bank masih kurang prudent dalam menyalurkan kredit. Menurut data BI, angka kredit bermasalah pada April lalu naik dari 5,9% menjadi 8% dibanding bulan sebelumnya. Angka 8% itu cukup besar mengingat tingkat NPL secara keseluruhan yang dianggap manageable oleh BI adalah 5%.

Tingkat NPL di sektor ini tak seharusnya meningkat mengingat prospek bisnis sektor ini yang sedang terang benderang. Namun hal ini tetap terjadi karena adanya indikasi ketidakberesan dalam studi kelayakan sebelum kredit dikucurkan. Termasuk penyaluran kredit yang jatuh ke tangan para pemain baru yang belum terbukti track record-nya di industri agribisnis, sehingga banyak proyek yang mesti berhenti di tengah jalan.

Kurangnya kapabilitas debitur dalam me-manage industri ini menimbulkan berbagai masalah, baik itu yang bersifat ketidakmampuan teknis, gagalnya pembebasan lahan, sampai pada kegagalan melakukan penetrasi pasar internasional.

Sektor konsumsi tetap bisa saja dijadikan sarana penyaluran kredit, meski dengan penerapan customer selection criteria yang ekstra hati-hati. Penyaluran kredit di sektor konsumsi ini bisa menjadi stimulus yang memunculkan demand atas barang dan jasa yang bisa memancing produksi dan pertumbuhan.

Bank memang tak punya banyak pilihan selain tetap mencoba meningkatkan penyaluran kredit. Selain memang merupakan “khittah” nya sebagai lembaga intermediasi, penyaluran kredit dapat meningkatkan kinerja perusahaan, serta dapat menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi. Namun tetap tak bisa meninggalkan prinsip utama, yakni prudential banking mengingat situasi ekonomi saat ini yang belum kondusif.

2 Responses leave one →
  1. 2008 Juli 5

    Saya bermimpi suatu saat nanti ada bank seperti bank grameen di bangladesh yang khusus menangani orang miskin. dan sungguh-sungguh memerdekakan mereka dari kemiskinan, sehingga secara perlahan namun pasti meningkatkan ekonomi di masyarakat.

    Mungkin harapan ini tidak dapat dibebankan atau diharapkan pada bank yang saat ini ada, karena terlanjur dibebani mazhab sustainability growth, sehingga selalu mengejar growth laba yang nggak ada habisnya.

    Kapan nulis tentang hal ini, mas ?

  2. 2008 Juli 7

    @christ
    rasanya gak cuma Anda, tapi banyak orang seperti saya juga bermimpi demikian. Namun, kondisi ekonomi Indonesia yang sangat liberal dan sistem perbankan kita yang dikuasai oleh pemilik kapital asing yang besar dan profit oriented, maka hal itu sulit.

    Saya pernah menulis Microbanking: Manfaat dan Mudarat yang pernah dimuat di salah satu media ekonomi nasional. Dalam paragraf terakhir saya memang sedikit menyinggung keberadaan Grameen Bank sebagai benchmark untuk belajar. Namun memang tulisan khusus mengenai microbanking yang seperti Grameen Bank saya belum pernah menulis secara detail. Thanks atas saran dan masukannya :)

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS