Dicontek Mentah-mentah
Saya lagi gregetan. Tulisan saya yang dimuat oleh Harian Bisnis Indonesia berjudul “Obligasi Daerah, Tantangan Bagi Pemda” tanggal 12 Juni 2007, baik melalui edisi cetak maupun edisi digital, dicontek mentah-mentah oleh seseorang bernama Gunoto Saparie dan dimuat di kolom opini Koran Wawasan, tanggal 12 Mei 2008 dan diganti judulnya menjadi “Obligasi daerah alternatif pendanaan pemda”. Koran Wawasan adalah Koran sore terbesar di Jawa Tengah.
Seluruh artikel saya di-copy paste dan ditambah dengan 3 paragraf pembukaan dan dua setengah paragraf terakhir.
Ini merupakan hal yang sangat mengecewakan sekaligus membuat saya jengkel setengah mati. Plagiarisme merupakan hal yang sangat dihindari oleh siapapun dalam menuangkan ide, gagasan, dan masukan kepada publik melalui media massa. Terlebih, Sdr Gunoto Saparie menyebutkan diri sebagai fungsionaris sebuah lembaga cedekiawan muslim, dimana nilai-nilai kecendekiawanan dan nilai-nilai Islami sangat menjunjung tinggi kejujuran.
Padahal menurut rekan saya di Semarang, Sdr. Gunoto Saparie adalah kolumnis terkenal yang sudah sejak lama banyak menulis di berbagai media di Jawa Tengah. Tapi kenapa masih juga iseng mengambil ide orang lain dan secara mentah-mentah meng-copy paste nya?
Ini Link tulisan saya di Harian Bisnis Indonesia
Ini link tulisan Sdr. Gunoto Saparie di Koran Wawasan
Coba bandingkan dan lihat mulai paragraf keempat tulisan Sdr Gunoto Saparie dengan paragraf pertama tulisan saya dan seterusnya. Gimana menurut Anda?

Positifnya, dicontek berarti tulisan kita diakui bagus pak. Negatifnya, ya, kerja keras kita malah dikira hasilnya orang lain, penghargaan justru didapat sosok yang curang.
Klarifikasi seperti ini sudah tepat pak, mudahan si pelaku sadar dan memberi penjelasan.
@Mansup
Saya sudah klarifikasi ke Wawasan namun belum ada tanggapan. Justru Bisnis Indonesia yang akan melakukan tindak lanjut, karena mereka merasa sudah membeli copyright tulisan itu dari saya.
Menunggu kabar selanjutnya.
Turut sedih Pak. Banyak orang mau ngetop dengan cara gak jujur
memang sebel kalo di copas. kalo di blog saya rasa tidak bisa dihindari karena gampang banget.
tapi kalo di koran sepertinya aneh banget, berarti dia ngetik ulang dong.
@blogdokter
saya juga nunggu klarifikasi nih.
@barry
terima kasih
@gadjah.net
bisa di copas dari edisi digitalnya Mas, yaitu Bisnis Indonesia online. Sama gampang dengan copas dari blog.
Kayaknya Gunoto kelupaan menyebut sumbernya. Rasanya tidak mungkin penulis senior semacam dia ceroboh semacam itu. Saya kenal baik sama dia kok, di Yogya dulu. Dia kan kosnya di Demangan, Gang Pendowo. Saya waktu itu di Sapen,
Atau Gunoto sedang mabuk ya? Entahlah. Sayang saya tidak lagi punya nomor kontaknya.
Jengkel juga jika tulisannya dijiplak. Aku juga pernah mengalami. Tulisanku di sebuah koran Jakarta dijiplak oleh seorang penulis di majalah terbitan sebuah departemen. Saya kirimkan kliping tulisanku ke majalah tersebut sambil menyebutkan jika majalah itu kecolongan tulisan seorang penjiplak. Ternyata itu bukan kejadian pertama kali. Sampai sekarang tulisanku pernah dijiplak empat kali oleh empat orang. Itu yang ketahuan. Capek deh.
Akhirnya saya memang capek sendiri. Habis energi ngurusi begituan. Lebih baik saya tetap konsentrasi menulis. Hidup terlalu indah untuk dilewatkan dengan kemarahan.
Oke, dan salam kenal dari Banjarmasin.
@mamiek
saya berharap demikian. Namun coba Anda lihat tulisan beliau dan bandingkan dengan tulisan saya. SELURUH, sekali lagi SELURUH artikel saya diambil bulat-bulat dengan ditambah 3 paragraf di muka dan dua setengah paragraf penutup.
Link di atas ke Wawasan Digital memang sudah tidak ada. Pihak koran Wawasan sudah men-delete artikel tersebut setelah saya kirim email dengan membandingkan dengan artikel saya.
@Iberamsyah
terima kasih sarannya. Salam kenal kembali dari Jakarta.
Memprihatinkan pak …
Speechless membaca postingan bapak .. koq bisa²nya seorang yang bermatabat melakukan tindakan tercela — dan saya yakin disengaja. Siapapun tidak dibenarkan melakukan ‘pengakuan’ atas karya orang lain.
Saya jadi ingat kasus lagu Geby .. yang heboh dan kemudian diklaim milik banyak pihak. Belum lagi kasus² lainnya. Apakah otak kita sudah tumpul sehingga malas menelorkan karya² yang bermutu sehingga diambil jalan pintas untuk mengakui karya milik orang lain.
Mas Nov .. saya justru kawatir, orang² yang sudah punya nama dan lebih ngetop dari kita, akan memutar balikan fakta karena mereka merasa sudah punya legitimasi di masyarakat tentang kredibilitas mereka.
Ketika ada orang ‘awam’ yang mengklaim suatu hasil karya, mereka cenderung akan didukung dengan masyarakat yang sudah tahu kredibilitasnya .. orang awam ini malah nanti dicemoohkan karena mengaku² atau mencemarkan nama baik orang terkenal itu.
Saya sangat mengkawatirkan hal itu mas Novri. Semoga mas Novri sudah menyiapkan semua fakta² bahwa karya itu adalah milik sah mas Novri, karena jika masalah ini terus berlanjut .. tentu posisi mas Novri sudah kuat.
Selamat berjuang !!
@Erander
Makasih Bang Eby. Jika saya salah, saya gak akan berani melakukan hal ini. Bahkan Surat Pembaca saya langsung terbit di Bisnis Indonesia di sabtu pagi, padahal surat itu saya kirim via email Jumat sore. Ini menunjukkan harian Bisnis pun aware. Artikel saya terbit di sebuah Koran Nasional hampir satu tahun lebih dulu. Bahkan email saya ketika mengirimkan ke Bisnis, sampai sekarang masih ada.
Plagiarisme ini sangat kentara karena susunan kalimat, bahkan titik dan koma nya sama. Terlebih, pada dua paragraf terakhir artikel palgiat itu terlihat “tidak nyambung” dengan isi tulisan secara keseluruhan, terbaca kesan asal tempel.
Saat ini, tulisan itu sudah tidak ada lagi website koran Wawasan. Namun saya tidak tahu apakah keberatan saya dimuat oleh mereka atau tidak, akrena dalam website koran itu tidak terdapat kolom Surat Pembaca. Terlebih, beliau itu adalah penulis senior, budayawan, sekaligus staf ahli bidang peningkatan mutu di koran yang bersangkutan. Wallahu’alam.
Tenang aja Mas Nov, ini tanda-tandanya bakal makin ngetop
Tulisan Mas Novri bagus dan bisa dijadikan rujukan pastinya.
@priandoyo
Makasih Njar. Tapi tetep aja gelo
Saya sudah membaca Surat Pembaca Sdr. Novri di Koran “Wawasan” 17 Juni.
Saya tidak tahu, apakah telah ada respon dari Sdr. Gunoto. Saya kira dia akan melakukan klarifikasi.
Novri, saya memahami kegundahanmu. Saran saya, tenang saja, mutiara meskipun dalam lumpur akan kelihatan. Terus kreatif, saya menunggu karya-karyamu selanjutnya. Tentu saja yang lebih baik dan memikat. Tinggalkan hal-hal yang mengganggu pikiran dan menghabiskan energimu.
@makhmud
Semoga Pak. Jika beliau mengklarifikasi dan meminta maaf; it’s all done. Masalah selesai.
@Reny S.
Terima kasih sekali atas dukungannya. Insya Allah say tidak terganggu. Justru ini menjadi motivasi untuk lebih baik dan lebih berhati-hati.
hai sobat,
sepertinya harus diklarifikasi dan tdk dibiarkan begitu saja kebiasaan copy paste. Rasanya dia punya kebiasaan copy paste dari berbagai artikel, jika saya baca beberapa tulisannya. Dia meramu dari berbagai tulisan. Call aja di no rumahnya 0247600601, hp. 081932354496, 081575579001, 081326824443.
Mudah-mudahan dia jera melakukan hal itu. Ini kecenderungan dia sekarang ini. Dapat dilihat dari berbagai tulisannya.
Salam
@haryono
Biarlah Mas. Saya tak ingin berpanjang panjang. Dengan tidak adanya tanggapan apapun dari beliau, saya sudah berasumsi beliau mengakui kesalahannya. Dengan dimuatnya surat saya di harian Waspada dan Bisnis Indonesia, setidaknya publik juga aware bahwa yang bersangkutan telah mencederai integritasnya sendiri.
Semoga redaktur opini koran juga akan mendapat pelajaran, betapapun terkenalnya seseorang sebagai penulis, kompetensi terhadap tema tulisan juga harus diperhatikan.
Mungkin karena ybs adalah staf ahli redaksi (sesuai yang tertulis di “profil” di website Wawasan), maka pertimbangan kompetensi itu sedikit diabaikan. Sayangnya kepercayaan redaksi Wawasan itu pun dicederai oleh beliau.
Novri,
Sepertinya dia sudah bukan staf redaksi atau apa pun di wawasan. Sebelum kasusmu dia kudengar mendapat kasus yang sama yaitu membuat berita atau opini copy paste dari sumber google dari berbagai artikel. dan akhirnya dia di PHK dari wawasan. Dia juga sering menulis atas nama istrinya Sri Multi Fatmawati, perhatikan. Ada juga beberapa tulisan yang mengatas namakan anaknya yang katanya kuliah di fakultas sastra undip yaitu alem savero reyhan atau gella rakhma islamey, atau erna sulistyowati. Coba pantau dan sikapi. Saya juga gergetan setiap membaca tuiisannya.
Kita harus berantas kejahatan intelektual.
Salamku
@haryono
Saya turut sedih sekaligus kasihan mendengar kasusnya, jika memang demikian.
Jika ia sampai kehilangan pekerjaan di koran Wawasan, maka apa yang sekarang dialaminya adalah buah yang dipetik atas apa yang ia tanam. Saya pikir, itu sudah cukup “menghukum” beliau dan tak perlu lagi kita dengan “kejam” terus mengejar kesalahan-kesalahan yang beliau lakukan.
Jadikan saja ini pelajaran yang amat berharga buat kita semua, terutama buat penulis pemula seperti saya.
Semoga dengan ini beliau bisa menjadi lebih jujur dalam berkarya.
Anyway, terima kasih atas input yang Mas Haryono berikan. Salam kenal dan jabat erat dari saya.
Waah,
Kena batunya juga itu orang.
Mudah-mudahan tidak diikuti oleh generasi berikutnya ulah itu.
Sabar ya mas
Bravo novri!
@asep muhyidin
Iya, mudah-mudahan beliau jera.
Btw, terima kasih atas dukungannya ya
Buat Mas Haryono,
Sepertinya Anda kenal banget dengan Mas Gunoto? Apakah Anda orang Semarang yang dekat dengan dia? Dari kata-kata Anda sepertinya ada dendam kesumat di baliknya.
Terima kasih dan sebenarnya saya ingin berkenalan dengan Anda, Mbak Haryono, eh Bu Haryono, eh Mas Haryono. Sori, bercanda… Hahahaha.
Oalah, ini orang yang menamakan diri sebagai Haryono pastilah bukan Haryono. Kemungkinan besar dia seorang perempuan. Jangan-jangan Haryono itu nama suaminya orang yang menamakan diri sebagai Haryono. Oalah, oalah, aku tahu nama perempuan yang sangat memiliki dendam kesumat terhadap Pak Gunoto. Oalah, oalah. Tebakan saya pasti tidak salah. Pak Novri ingin tahu namanya?
Oalah, oalah, gue tahu kok siapa orang namain diri sebagai Haryono tuh. Bukan cowok tapi cewek kok. Bener. Cewek! Oalah, oalah… Pak Novri pengin tau? Kirimin email ke gue.
@Andra Muhid, Widi Arti Widi Arto
Biarkan saja, siapapun adanya beliau.
Bahwa bisa jadi ada sesuatu dibalik komentar beliau terhadap Saparie, juga tak masalah buat saya.
Bisa jadi beliau gak suka dengan apa yang dilakukan Gunoto Saparie, namun dengan berbagai pertimbangan tak bisa mengungkapkan jati dirinya.