Inspirasi di Pagi Hari

2008 Juli 28
by n0vri

Inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Ia bisa datang tiba-tiba, serta berasal dari kejadian yang tak disangka pula. Seperti yang saya alami sendiri.

Mobil saya terpaksa masuk bengkel, karena ditabrak oleh salah seorang seleb blog (beneran, jumlah hits di blognya saja mencapai jutaan klik!), maka saya naik KRL Ekspress Sudirman menuju ke tempat kerja.

Ketika saya sedang menunggu kedatangan kereta itulah, di belakang saya berdiri dua orang yang sepertinya berteman akrab. Saya tak bermaksud menguping pembicaraan mereka, namun jarak yang begitu dekat membuat saya mendengar semua pembicaraan mereka.

Si wanita sedang memuji si pria yang menurutnya begitu mudah dalam mencari pekerjaan. Si Pria, dengan mengucapkan terima kasih menceritakan proses kepindahannya ke pekerjaan baru. Fokus pembicaraan mereka adalah gaji si Pria yang mencapai X juta rupiah sebulan. Ia begitu bangga menceritakannya, dan sang wanita begitu terpesona. Gaji itu telah membuat ia begitu bersemangat bekerja, termasuk bersemangat di pagi hari untuk berangkat bekerja.

Itulah yang menginspirasi saya. Di kereta, wajah si pria memang terlihat cerah, bersemangat, dan bahagia. Saya membandingkan dengan banyak orang di sekeliling saya –bahkan dengan saya sendiri- yang seringkali mengeluhkan gaji yang diterima, walaupun amount-nya mungkin jauh berlipat-lipat dari X juta rupiah itu!

Setiap saya melihat dirinya di kereta, saya seperti ditegur untuk lebih bersemangat, lebih cerah dan lebih berbahagia. Ia dengan gaji X juta rupiah begitu excited memulai hari, maka saya tidak punya alasan untuk tidak lebih excited, lebih bersemangat dan lebih bahagia dari dirinya!

Terima kasih, Mas. Siapapun Anda. Anda telah memberi inspirasi buat saya untuk bisa menikmati kehangatan matahari pagi sambil bernyanyi menuju ke tempat kerja.

8 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Juli 28

    kalo sering mengeluhkan gaji, barangkali mesti memeriksa kembali daftar utang yg ada mas, saya yakin meski gaji kecil tapi kalo tanpa utang rasanya merdeka sekali :D

    *masih belum bisa bebas utang, tp setidaknya tidak lagi mengeluhkan soal gaji*

  2. 2008 Juli 28

    *hari

    periksa daftar hutang? Menurutku sih, bisa ya bisa tidak. Jika hutang masih dalam batas yang manageable, misalnya hanya 5% dari pendapatan, maka itu gak masalah.

    Justru yang perlu di-review adalah seberapa besar rasa syukur kita atas semua anugerah-Nya yang sudah kita nikmati.

    Once kita sudah bisa meresapi betapa kenikmatan dan anugerah itu tak lagi bisa dihitung, then kita gak akan mengeluh lagi :)

  3. 2008 Juli 28

    hehehe, emang bisa ya bisa tidak koq mas,
    cuma biasanya yg bikin susah bersyukur itu ya salah satunya beban utang (juga beban gaya hidup).

    Lagipula kalo sedari awal bisa mensyukuri keadaan rasanya ngga mungkin punya utang ya? :D

  4. 2008 Juli 29

    @hari

    sekali lagi kita beda pendapat ya :P

    Mensyukuri nikmat Tuhan gak berarti kita gak berhutang atau sebaliknya, berhutang berarti kurang bersyukur. Seringkali kita dihadapkan pada keterbatasan. Hutang-piutang, sepanjang dilakukan dengan ikhlas, baik, dan kalkulatif, bisa merupakan jalan keluar dari keterbatasan. Misalnya dalam kepemilikan rumah yang layak bagi keluarga kita.

    Menurutku, sepanjang hutang itu dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan sehingga tidak memberatkan, itu justru merupakan salah satu cara kita mencari jalan kehidupan yang lebih baik, yang juga -menurutku- perwujudan rasa syukur kita pada Nya yang memberikan kesempatan pada kita ada di dunia.

  5. 2008 Juli 30

    Betul sekali mas,
    saya juga sering kurang bersyukur atas gaji yang kita terima dari perusahaan tempat kita bekerja, padahal jika mau membandingkan dengan gaji mereka yang dibawah kita, sebenarnya perusahaan sudah memberikan nilai yang cukup.
    Masalahnya adalah kita terlalu sering melihat ke atas, bukan melihat ke bawah.
    Terima kasih pencerahannya …. sehingga membuat saya bersemangat kembali untuk bekerja … Thanks … you inspire me !

  6. 2008 Juli 31

    @christ

    Anda juga benar, banyak diantara kita yang selalu melihat ke atas, dan lupa menunduk sejenak melihat yang di bawah, akhirnya jadi seperti merasa kekurangan terus.

    at last, you’re welcome :)

  7. 2008 Agustus 21

    Mungkin ini salah satu penyakit manusia ya mas, selalu melihat kebahagiaan pada orang lain. Beruntung orang-orang yang menyikapinya dengan mengambil pelajaran, bukan dengan rasa iri…

  8. 2008 Agustus 22

    mansup

    Mungkin juga, dan kalo memang itu penyakit, harusnya bisa diobati dong :)

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS