Skip to content

Karet Gelang

November 17, 2006

Dari sebuah e-mail…

Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, satu saja.
Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak.
Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang.

Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas.

Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang.
Di lemari tidak ada.
Di gantungan-gantungan baju tidak ada.
Di kolong-kolong meja juga tidak ada.

Saya jadi kelabakan.
Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan.

Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet.
Sudah ditunggu yang jemput lagi.

Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa.
Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa.

Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin
saya bingung.
Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu
penting.

Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu.
Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh.
Sungguh, sangat biasa-bisa saja.

Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi.
Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Itu pun kadang-kadang salah.

Kemampuan dia memang sangat terbatas.
Tetapi dia sangat senang membantu orang lain ;
entah menemani pergi,membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat.
Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan
senang hati.

Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka
kelabakan juga.
Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia
tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.

Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga
sama sekali tidak berarti.
Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada
saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.

Mau bukti lain ?
Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan
mereka saat mendaki tebing curam ?

Bukan teriknya matahari.
Bukan beratnya perbekalan.
Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.

Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun.
Lebih-lebih meremehkan diri sendiri.

Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah.
Yang salah itu kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: