Skip to content

Pengemis Pakai Pampers

April 5, 2007

Setiap pagi, ketika berangkat ke kantor saya selalu melewati Jl. Rasuna Said dan berbelok masuk ke kawasan Mega Kuningan, lewat samping Kedubes Polandia. Di sini saya turun dan istri saya gantian mengemudi dan membawa mobil ke kantornya di kawasan Sudirman. Karena kantor saya ada di seberang Kedubes Polandia, maka dengan demikian saya selalu melewati JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) di depan Gedung Indorama, Jl. Rasuna Said Jakarta, dan selalu menemukan seorang wanita muda mengemis dengan menggendong seorang bayi berumur sekitar satu tahun.

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hanya sering bergumam sendiri, seandainya ibu ini punya semangat juang sedikit saja, ia tak mungkin jadi pengemis, apalagi penampilannya terlalu bersih dibanding pengemis pada umumnya. Saya ingat, betapa anak kost di sekitar Karet – Setiabudi sering kesulitan mencari tukang cuci-setrika, sehingga sebenarnya jika ia mau, ibu ini akan mudah mendapatkan penghasilan halal dan lebih bermartabat daripada sekedar duduk mengemis.

Tapi karena setiap pagi melihat ibu ini, akhirnya saya melihat hal yang aneh. Di belakang tempat ibu ini duduk, banyak sekali sampah diapers (pampers, celana dalam disposal yang mampu menyerap air kencing sampai batas tertentu sehingga tetap terasa kering dipakai) bekas yang dibuang dengan diselipkan disela-sela papan iklan yang menempel di sisi jembatan.

Saya jadi makin penasaran, jangan-jangan itu pengemis tapi tetap bisa pakai diapers. Ternyata dugaan saya benar. Si ibu pengemis itu ternyata melengkapi bayinya dengan diapers. Pagi ini saya melihat si bayi yang sedang merangkak di dekat ibunya jelas menggunakan diapers karena menyembul di pinggangnya, melebih karet celananya.

Wah, saya makin tak simpati pada ibu ini. Ternyata dia memang bukan orang susah betulan, alias sekedar orang malas bekerja. Saya tak jadi menyesal karena sejak awal merasa malas memberi uang kepada ibu itu, sehingga lambat laun ibu itupun mengenali saya yang tak pernah mau memberi.

Saya mungkin pelit dan juga terlalu naif dengan menyimpulkan bahwa pengguna diapers bukan orang susah. Tapi, menurut saya, logikanya kalo memang ibu itu kesulitan uang, ia akan lebih memilih membekali anaknya dengan beberapa celana ganti dibanding dengan memakai diapers yang harganya tidak murah untuk ukuran pengemis.

Kesimpulan saya, ibu itu pemalas. Seperti banyak orang di sekitar kita. Tak Cuma pengemis, pengamen yang memaksa orang yang naik bus atau sedang makan di pinggir jalan untuk memberi, pak ogah di perempatan jalan, preman di depan terminal atau mal, semua adalah pemalas. Termasuk dalam hal ini juga adalah anggota DPR yang malas datang untuk sidang atau membahas legislasi yang menjadi tugasnya. Anggota DPR itu juga pemalas, tak lebih baik dari pak ogah atau pengemis di atas jembatan itu…

Ada apa ya, dengan postingan ini?

7 Komentar leave one →
  1. April 12, 2007 8:26 pm

    Kalo bekerja jadi tukang cuci/seterika, lalu siapa yg akan mengasuh anaknya? Apakah pekerjaan itu bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka?

    Jangan-jangan pampernya juga engak beli…

    Salam kenal

  2. April 13, 2007 2:47 am

    Di tempat kami ada seorang ibu yang setiap hari ke kota. Kepada tetangganya si ibu tsb mengatakan bekerja. Ternyata, beliau “bekerja” sebagai pengemis dengan menyewa bayi (ada jaringannya).
    Saya pernah memergoki ketika jum’atan di masjid terbesar kota kami, beliau ada di pintu masuk berjajar dengan pengemis lain.
    Kalo ke Jawa bukan naik kapal laut, tapi pesawat.
    Entah mengapa beliau memilih menjadi pengemis dibanding pekerjaan lain. Mungkin hasilnya lumayan.
    Pengemis pakai pempers vs pengemis naik pesawat, hehehe

  3. April 13, 2007 7:19 am

    @juliach
    lha, sambil nyuci ngurus anak juga banyak. sambil nyetrika, anak malah bisa bermain-main lebih leluasa, bukan cuma dipangku diatas jembatan penyeberangan yang kotor dan penuh polusi. Terus, terima ccuci-setrika kan gak mesti buat satu rumah saja, bisa beberapa rumah sekaligus, rasanya hasilnya lumayan…

    salam kenal juga

    @cakmoki
    wah, lebih canggih lagi ternyata “modus-operandi”-nya cak, ha ha ha

  4. April 17, 2007 1:19 am

    Di daerah kami ada seoang pencuci dan setrika yang seperti pak n0vri gambarkan. Beliau dihonor bulanan di klinik perawatan dan mencuci di beberapa tempat. Perbulan hasilnya sekitar 1 juta. Untuk daerah kecamatan, penghasilan tersebut lumayan, setara dengan gaji pns golongan II.
    Mungkin pesan moral tulisan ini: “dimana ada kemauan dan usaha, niscaya ada jalan”

  5. April 17, 2007 6:49 am

    @Cakmoki
    100% setuju, Pak. Allah SWT memerintahkan kita berusaha keras di dunia, bukan sebagai peminta-minta. Bahkan dalam Islam kerja itu bagian dari ibadah. Kita wajib bayar zakat mal, bukan nerima zakat mal orang lain, ‘kan?

  6. Anto permalink
    September 10, 2007 9:27 am

    mirip sama dengan pengalamanku…
    tiap pulang kantor, sore hari…saya biasa menyebrangi jembtn penyebrangan, dsitu dah nongkrong bapak2 yg duduk smbl nyapu (mgk lebih tepatnya pura2 nyapu kali ya, lha sampahnya sama mulu tiap hari…itu2 aja), pakaiannya kumal.

    padahal tiap pagi nih, bpk ini nongkrong (gak jauh dari jembatan) sambil ngrokok, pake baju yg tdk kumal (kdg2 pake kaos partai bekas kampanye), jam tangan, lucunya lagi…pake earphone di kupingnya (gak tau ipod, radio ato hape)

  7. September 12, 2007 7:41 am

    Hehehe..ada pengemis pake iPod… cerita baru tuh😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: