Skip to content

Soliloquy di Pagi Hari

April 10, 2007

Pagi tadi, dalam perjalanan menuju kantor, istriku terlelap di sebelahku. Radio Trijaya me-relay “Seputar Indonesia”-nya RCTI, dan aku berkonsentrasi di belakang kemudi.

Sesekali, saat kondisi jalan padat atau terkena traffic light, kupandangi istriku yang tertidur disebelah. Sedih juga. Betapa kami memulai hari disaat matahari belum lagi muncul, dan pulang dengan kembali berkutat di kemacetan Jakarta setelah gelap malam. 12 jam sehari dihabiskan di kantor, dan 2.5 jam lainnya di jalanan. Sisa waktu yang hanya 9.5 jam itu harus dipotong untuk istirahat malam dan segala persiapan menjelang berangkat ke kantor di dini hari. Ah, betapa kuantitas kebersamaan kami sedikit sekali.

Sesekali aku harus gesit menghidari motor yang zigzag seenaknya.

Semalam kami berdiskusi, ingin rasanya jalan-jalan lagi. Seperti tahun lalu, dimana kami menghabiskan 10 hari di Bali tanpa beban. Tapi apa mungkin? Aku sih bisa aja. Jatah cuti-ku yang 21 hari kerja tahun ini baru kuambil sehari. Tapi istriku baru saja pindah kerja, jadi nggak mungkin bisa cuti kapan saja. Repot.

Aku harus menghindar lagi. Kali ini Kopaja yang menggeliat seenaknya.

Sekarang kami ingin sekali cari kerja yang dekat rumah, sehingga tak perlu pagi-pagi sekali berangkat ke kantor. Mungkin di sekitar Jl. TB Simatupang atau BSD adalah pilihan yang sangat baik. Apalagi kalau aku bisa pindah ke Bank yang berkantor di di Bintaro Jaya Sektor VII –either Bank Permata atau Niaga- dan istriku pindah ke perusahaan produk kosmetik terkenal yang berkantor di sekitar situ juga, rasanya ideal sekali. Bisa berngkat ke kantor agak siang, pulang ketika hari masih sore, ehm….

Atau, mungkin kami mesti pensiun jadi karyawan dan mulai membangun usaha sendiri, jadi tak terikat aturan mesti datang pagi. Ini juga cita-cita, tapi apa iya aku berani?

Tak terasa perjalanananku pagi ini selesai, aku harus segera menepi. Istriku bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke kantornya. Aku berjalan pelan-pelan, di atas jembatan penyeberangan menuju gedung kantorku, aku masih bertanya pada diri sendiri, apa iya aku berani?

5 Komentar leave one →
  1. April 10, 2007 3:21 pm

    kalo dah berani, tolong kabari, sayapun terjebak dalam situasi dan kondisi yang nggak jauh beda dgn anda, waktu buat keluarga berkurang sama sekali, he…he…

  2. April 10, 2007 3:33 pm

    Oke deh, Mas Peyek…
    tapi kalo penjenengan dulu yang berani, saya juga dikabari ya…

  3. April 11, 2007 7:43 pm

    *ngebayangin*
    jangan-jangan saya bakalan begini juga nanti..

    *berdoa*
    moga-mogaa gak.😀

  4. April 16, 2007 8:22 am

    @alle
    jangan ngalamin deh, gak enak…

Trackbacks

  1. Awas, Data Pribadi Anda Bocor! « Suatu Ketika, Tentang Sesuatu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: