Skip to content

Herbert Feith

April 24, 2007

Entah mengapa, hari ini tiba-tiba saya teringat pada Herbert Feith. Ada perasaan haru bila teringat bahwa beliau telah lama tiada. Namun kenangan saya akan beliau, tak akan pernah hilang. Herb adalah guru, teman, dan seorang sahabat yang cerdas, rendah hati, dan sangat egaliter.

Saya membuka website yayasan yang didirikan untuk meneruskan ide dan dedikasi Herb, www.herb-feith-foundation.org dan membaca biografinya. Ada satu alenia yang benar-benar pernah saya alami:

Herb was also a great teacher. His egalitarianism and enthusiasm underpinned his knowledge and wisdom. No matter how inexperienced his students were, he treated them as equals and intimates, listening carefully to their arguments and behaving as though he had as much to learn from them as they did from him.

Kalimat di atas seratus persen benar. Saya teringat, saat itu sekitar akhir tahun 1996, berarti lebih sepuluh tahun yang lalu. Saya mengambil mata kuliah ”Nasionalisme di Panggung Internasional” yang diasuh salah satu sahabat Herb, Dr. Lance Castles. Lance tidak bisa hadir karena sakit dan Herb menggantikannya memandu diskusi di kelas kami.

Herb membagikan selembar bahan diskusi dan membuat kelompok di dalam kelas, setiap kelompok terdiri dari dua orang. Hasil diskusi kelompok akan diajukan dalam diskusi kelas yang lebih besar. Herb sendiri memilih saya menjadi anggota kelompoknya.

Awalnya saya ragu. Namun kemudian keraguan tersebut hilang. Dalam diskusi tersebut, kami diwajibkan memilih 3 poin dari banyak pilhan. Poin pertama dan kedua, kami langsung sepakat tanpa berdebat. Poin ketiga, saya dan Herb memiliki pilihan berbeda. Ia menjelaskan alasannya memilih, dan saya dengan perasaan was-was mencoba men-challange-nya. Kesimpulannya sangat mengejutkan, Herb tanpa pikir panjang langsung setuju poin yang saya pilih, beliau bilang kalau alasan yang saya ajukan jauh lebih logis dan poin ketiga dari kelompok kami adalah poin yang saya pilih.

Mungkin ini cuma cerita sederhana, namun tidak bagi saya. Ketika itu, saya hanyalah mahasiswa biasa dan Herb adalah seorang Professor dengan reputasi luar biasa, tapi Herb dengan rendah hati dan lapang dada mau di-challange dan siap menerima kritik. Tanpa perasaan tersinggung, apalagi marah.

Itu kenagan manis buat saya. Betapapun, kita harus menghormati orang lain, tanpa melihat pangkat yang melekat atau nama besar yang disandang. Herb adalah guru sejati sekaligus demokrat tulen.

Herb begitu mencintai Indonesia. Pernah ia mengkritik media Australia yang begitu gencar menyudutkan Indonesia, ketika mulai banyak riot terjadi. Menurut Herb, dengan terus menyudutkan posisi Indonesia, hal itu justru kontrapoduktif bagi usaha membangun kembali dan menjaga keutuhan Indonesia. Ah, kita memang telah kehilangan seorang kawan sejati.

Selamat Jalan Herb…

3 Komentar leave one →
  1. April 27, 2007 11:24 pm

    Seandainya para pemimpin kita mau dan mampu meniru sifat baik Herb (lapang dada dll)….alangkah indahnya negara dunia kecil kita ini…

  2. April 30, 2007 8:27 am

    Betul Mas Deking.
    Pada saat yang bersamaan, justru banyak dosen saya yang punya nama beken di Indonesia, egois-nya setengah mati, seolah-oleh mereka tak pernah salah dan kita mahasiswa gak tahu apa-apa…

Trackbacks

  1. Gosib Pemula (Update!) « A Journal of A Not-Superman Human

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: