Skip to content

Setelah Reshuffle, Lalu Apa?

Mei 14, 2007

Seminggu sudah Presiden SBY akan mengumumkan reshuffle kabinet-nya lagi. Pasar tampaknya tak akan menyambut se-antusias reshuffle edisi pertama. Pengalaman reshuffle edisi pertama yang tak banyak membawa perubahan, membuat pasar tampak skeptis mengantisipasi perubahan jajaran eksekutif. Apalagi reshuffle kali ini tak banyak jajaran kementrian ekonomi yang berubah. Pergantian Sugiharto telah lama diduga pasar, sehingga respons yang diberikan tak lagi signifikan. Setelah kwartal pertama tahun 2007 kita lewati, indikator ekonomi makro masih menunjukkan bahwa kondisi ekonomi kita masih belumlah stabil. Muncul kemudian sebuah pertanyaan, setelah reshuffle, lalu apa?

Meski pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren membaik, namun belum mencapai suatu titik yang mampu menggerakkan ekonomi nasional secara signifikan. Hal ini terjadi akibat kombinasi tingginya inflasi dan suku bunga dan kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang kurang kondusif. Untuk 2007, Bank Indonesia hanya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6.0%, sedangkan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi bakal mencapai 6,3%. Tentu saja target itu tak mudah dicapai mengingat sektor riil yang masih stagnan, dan takutnya perbankan dalam mengucurkan kredit.

Indikator lain adalah pergerakan BI rate yang selama 2005-2007 masih terus berfluktuasi. Kontraksi yang diakibatkan kenaikan harga BBM di penghujung 2005 membuat bank sentral terpaksa menaikkan BI rate menjadi 12,75% di tahun 2006. Meski sejak itu BI rate terus turun hingga mencapai level 8,75% pada Mei 2007.

Pemerintah mentargetkan BI rate tahun 2007 berada pada level 8,5%. Meski masih ada ruang bagi BI untuk mencapai level tersebut, namun ini tak mudah direalisasikan, mengingat ancaman inflasi masih cukup besar mengintai yang bisa memaksa BI menaikan BI rate lagi.

Pada 2006 tingkat inflasi mencapai 6.6%. Rendahnya inflasi sebenarnya menujukkan turunnya daya beli masyarakat pascakenaikan harga-harga pada Oktober 2005. Pada 2005 inflasi melesat karena harga BBM dinaikkan dua kali dan ini memberikan multiplier effect terhadap inflasi. Apalagi kenaikan itu terjadi menjelang hari raya dan akhir tahun. Maka, dampaknya pun sangat besar terhadap inflasi.

Pemerintah menargetkan inflasi 6,5% pada tahun 2007 dengan asumsi tidak menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Asumsi ini hanya bisa dicapai apabila tak ada gejolak harga minyak dunia dan suku bunga internasional. Tetapi ketidakpastian politik di Timur Tengah telah membuat harga minyak begitu fluktuatif, bahkan sempat mencapai harga US$ 65 per barel di bulan Maret.

Ancaman domestik terhadap inflasi yang paling dekat saat ini adalah tingginya harga bahan makanan terutama beras dan minyak goreng. Kesalahan pemerintah dalam mengantisipasi kelangkaan kebutuhan pokok akan berakibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang lain secara simultan.

Berita baik memang datang dari meningkatnya nilai ekspor. Sepanjang tahun 2006 nilai ekspor mencapai US$100.7 miliar, meningkat 17,55% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Namun kondisi yang sama juga terjadi pada impor non migas tahun 2006 yang mencapai US$61 miliar, naik 5.85% dibandingkan tahun 2005. Pada 2007 cadangan devisa juga menunjukkan peningkatan, pada trwulan pertama 2007 mencapai US$47,2 karena meningkatnya surplus neraca pembayaran sebesar US$3,3 miliar atau melebih target US$2,9 miliar.

Berbagai koordinasi kebijakan yang dilakukan otoritas moneter nampaknya cukup berhasil dalam mengendalikan nilai tukar rupiah. Kebijakan yang ada cukup mampu meredam ekspektasi terhadap depresiasi rupiah. Pada akhir kwartal pertama 2007 nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp8.980 per dolar AS, mengalami apresiasi tipis dibanding Desember 2006 sebesar Rp9.055 per dolar Amerika. Keberhasilan ini membutuhkan daya tahan yang kuat terhadap godaan pasar yang akan terus berkembang.

Dari sisi penyaluran kredit, total kredit yang disalurkan perbankan sampai Februari 2007 mencapai 826.3 triliun rupiah dengan tingkat NPL net mencapai 3,4%. Namun kredit bank ini umumnya banyak disalurkan kepada para debitur existing. Penyaluran kredit kepada existing debtors ini menunjukkan betapa Bank masih takut untuk melakukan ekspansi yang lebih agresif.

Transaksi saham sepanjang 2006 menunjukkan tren positif. Pada akhir Januari 2006 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mencapai 1.055,44, tetapi per 27 Desember 2006 sudah mencapai angka 1.803,26. Ini berarti sejak Desember 2005 IHSG sudah naik 55,10%. Kwartal pertama tahun 2007 ditandai dengan prestasi baru dimana IHSG sempat berhasil menembus angka 2000 pada penutupan tanggal 27 April 2007. Meski sempat turun pada level 1999.2 poin pada penutupan tanggal 30 April 2007, IHSG terus melambung dan mencatat rekor tertinggi dalam sejarah sepekan kemudian. Volatilias bursa mencerminkan volatilias ekonomi makro, tetapi besarnya capital inflow di lantai bursa tidaklah mencerminkan besarnya investasi baru di sektor riil.

Rendahnya investasi di sektor riil ditunjukkan data BKPM selama Januari—November 2006 memperlihatkan terjadinya penurunan PMDN dan PMA. Untuk PMDN, realisasi investasi hanya sekitar Rp17 triliun, dibanding Rp27 triliun pada periode yang sama tahun 2005. Sedangkan realisasi investasi asing sampai dengan November 2006 hanya sebesar US$4.7 miliar, dibanding US$8.7 miliar pada periode yang sama tahun 2005. Seluruh angka investasi ini di luar investasi di bidang migas, keuangan, dan bursa efek.

Angka-angka di atas menunjukkan ekonomi makro masih bergerak fluktuatif dan sangat rentan terhadap banyak faktor. Sebagian menunjukkan tren positif meski masih labil, sebagian lagi justru menunjukkan tren menurun. Kesenjangan antara sektor riil dan keuangan masih demikian lebar.

Kwartal pertama tahun ini bisa dilewati dengan kondisi yang relatif baik, namun jalan menuju recovery ekonomi sepuluh tahun pasca krisis yang melanda, masih merupakan jalan terjal dan berliku.

5 Komentar leave one →
  1. Mei 14, 2007 2:04 pm

    saya sering baca analisa mr kwik, wah semakin ngeri saja analisa para pakar itu tentang ekonomi Indonesia, apalagi baca tulisan ini,
    lha herannya kenapa kalo semua bisa dianalisa mulai awal kanapa ndak ada rekasi responisf dari pemerintah? bukankah kita punya banyak pakar tentang ini? *halah sok serius* heheheh!!!

  2. Mei 14, 2007 2:53 pm

    Waaah… kalo cuma analisis ini, pasti gak digubris Cak…
    Lha wong sing dadi menteri kuwi doktor-doktor kabeh, je…

  3. Mei 20, 2007 1:15 pm

    Hiyaat, sudah waktunya masuk tivi nih😉
    Dikit-dikit jadi agak ngerti tentang ekonomi. Jan uenak tenan punya temen blogger ahli ekonomi

  4. Mei 21, 2007 6:48 am

    Haiyyaa…
    belum level tivi Cak, paling-paling ngisi opini koran, macam Bisnis Indonesia atawa The Jakarta Post🙂

  5. Oktober 27, 2007 1:35 pm

    Indonesia mau maju dan kaya, gampang. Masih banyak Sumber Daya Alam indonesia yg belum tergali. Tapi jangan diberikan ke Asing. Kasih keperusahaan Negara spt pertamina, Bukit Asam, PT Timah, dan yg lainnya.

    Dengan penerimaan yg besar dari hasil SDA, APBN kita akan gemuk. Otomatis pembangunan besar-besaran akan terjadi.

    Indonesia negara superkaya SDA nya. Sudah dijarah oleh asing tapi masih kaya. Sayang, eksplorasinya berjalan lambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: