Skip to content

Percaya

Agustus 30, 2007

Percaya. Suatu kata yang bisa membuat kita lengah. Kehidupan kita saat ini, seringkali membuat orang dengan alasan apa saja untuk menciderai kepercayaan kita. Di sisi lain, keterbatasan kita sebagai manusia biasa,membuat kita –suka tidak suka- harus mempercayakan sebagian aspek kehidupan kita pada orang lain.

Sebagai atasan di kantor, kita mesti percaya pada anak buah yang kita beri tugas. Tanpa delegasi tugas dan rasa percaya, dijamin kerjaan kita tak akan pernah tuntas. Sebagai bawahan, kita percaya pada atasan kita bahwa ia akan memperjuangkan kepentingan bersama dan bisa memberi guidance yang jelas sehingga tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita –baik secara unit kerja- maupun individu.

Pengalaman menarik pernah saya alami. Seorang staf admin support, begitu baik membangun trust diantara rekan-rekan satu unit kerjanya. Bahkan atasannya sedang memperjuangkan statusnya dari sekedar pegawai outsourcing menjadi permanent employee. Namun apa lacur, kepercayaan yang sedikit-demi sedikit ia bangun, ia hancurkan oleh ulah konyolnya sendiri.

Ia memalsukan kartu kredit atas nama teman-temannya. Bahkan ia dengan sengaja telah membuat KTP aspal atas nama seorang teman dengan menempelkan fotonya sendiri. Menggunakan kartu bayar (charge card) temannya, dan yang paling konyol, ia mencuri komponen komputer yang sementara idle karena penggunanya mengundurkan diri atau mutasi ke tempat lain.

Awalnya, ketika kasus ini terungkap, tak ada satupun teman-temannya yang percaya. Namun, rekaman kamera CCTV, pengakuan karyawan dan pemilik merchant tempat ia menggunakan kartu kredit dan hasil investigasi, meruntuhkan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Kepercayaan yang begitu besar diberikan kepadanya hingga ia bisa mengakses semua tempat, dan bahkan ketika baru satu kasus yang terungkap teman-temannya satu unit berniat iuran menanggung kerugian material yang terjadi. Akhirnya kepercayaan itu runtuh setelah banyak kasus terungkap seiring intensifnya penyelidikan.

Sebuah pelajaran berharga. Betapapun kita percaya pada orang lain, ia tetaplah orang lain. Ia adalah manusia biasa yang punya kepentingan dan kita tak pernah tahu seberapa besar ia bisa memikul kepercayaan kita.

Satu-satunya tempat terpercaya, adalah Ia, Sang Kekasih Sejati, yang selalu sedia menjaga kita, dan tak pernah mengkhianati kita. Ia yang Maha Terpercaya. Wallahu’alam.

12 Komentar leave one →
  1. Agustus 30, 2007 6:57 pm

    pertama goblok banget tu orang:mrgreen:
    kedua dia hanya mencari cara singkat untuk cepet kaya *pendapat pribad*
    ketiga hmmm sayah jadi mikir kalo rasa saling percaya antara manusia itu seperti cermin, sekali retak maka sampai kapanpun tidak akan menjadi seperti semula lagi…. dan melihat ucapan terakhir mas n0vri sayah jadi terpana..
    iya ya mas.. kepercayaan sama sang khalik tetep begitu walaupun kita terus berkhianat dengn memecahkan cermin kepercayaan namun sang khalik tetap melihat kita sebagai cermin utuh….😦
    hanya pada waktunya maka kita akan menghitung sendiri setiap keretakan yg telah kita buat dengan adil
    😦

  2. Agustus 31, 2007 6:59 am

    Betul Al,
    kita yang justru seringkali menciderai kepercayaan yang diberikanNya, dan Ia tetap menganugerahkan kita begitu banyak nikmat. Semoga kesalahan kita semua dimaafkan ya, Amien…

  3. Agustus 31, 2007 7:45 am

    Kadang saya bertanya, apa sebenarnya yang kita punya, selain percaya? Kalau kita tidak memPERCAYAi apapun, berarti kita juga tidak mempunyai apapun kan??

    *geleng-geleng, terpesona dengan koment sendiri*

  4. Agustus 31, 2007 7:56 am

    lha, berarti kita masih punya “ketidakpercayaan” kan?

    *geleng-geleng, bingung sama komen sendiri*

  5. Agustus 31, 2007 12:15 pm

    percaya itu kan ada batasnya …🙂

  6. Agustus 31, 2007 12:15 pm

    ke orang lain maksudku😆

  7. Agustus 31, 2007 12:15 pm

    🙂

  8. Agustus 31, 2007 1:30 pm

    wah ada juga ya yang sampai kaya gitu, hmmm berarti kartu kredit kontrolnya lemah dong

  9. Agustus 31, 2007 1:48 pm

    @huereuy
    iya, memang semua di dunia kan ada batasannya.

    @Priandoyo
    kartu kreditnya bukan internal lho Njar🙂
    Dia apply ke bank lain, pake KTP atas nama orang lain.

  10. Agustus 31, 2007 10:10 pm

    entah kenapa saya orangnya sulit percaya sama orang lain, karena saya pernah ‘ditikam’ dari belakang oleh teman sendiri. jadi sekarang kalau mau percaya dengan orang, rasanya agak sulit. tapi bagi yang sudah saya percayai, berbanggalah kalian hohoho😆

  11. September 2, 2007 8:23 am

    Ma sih dari dulu percayaan sama orang, tapi ga percaya kalo orang mau ngebantuin Ma,, *belibeet!*

    Masalah Ma yang percayaan itu, biasanya sepaket sama ekspektasi Ma sama orang yang Ma percaya itu, dan buntutnya sakit ati sendiri,, ampe temen temen Ma nyuruh Ma buat ga usah aja terlalu berharap dari orang lain,,

    tapi ga tau kenapa Ma tetep aja,,
    *curiga masokis*

  12. September 3, 2007 6:54 am

    @cK
    Kalo itu sih, bisa dimaklumi Bu… asal masih bisa percaya sama orang aja…
    *beruntunglah orang yang dipercaya cK*

    @Ma
    jadi sekarang, tantangannya adalah me-manage ekspektasi Ma sama orang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: