Skip to content

Apa yang Ada di Benak Anda?

September 3, 2007

Apa yang ada di benak Anda menghadapi kenyataan beruntun berikut ini?

–>Subsidi minyak tanah dicabut, rakyat miskin suka tak suka harus beralih ke gas. Belum lagi gas bisa didapat, minyak tanah telah ditarik dari pasaran. Pemerintah menarik minyak tanah karena minyak tanah bersubsidi banyak diseludupkan ke luar negeri. Alih-alih menghukum mati penyelundup dan aparat yang membekingi mereka, jutaan rakyat yang dipaksa sengsara karena subsidi minyak tanah dihapus.

–> Harga bahan makanan dan kebutuhan pokok naik sekitar 25-30%., sampai detik ini pemerintah –yang dibayar dengan pajak dari kita- tak tahu penyebabnya dan tak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada cerita di negeri ini ada perusahaan atau majikan yang mau dengan serta merta menaikkan gaji karyawannya di tengah-tengah tahun seperti ini. Paling cepat awal tahun depan baru ada kenaikan, itu pun belum tentu sebesar kenaikan harga barang.

–> Bagi warga negara biasa yang hanya sanggup membeli rumah jauh dari pusat kota karena tak sanggup membeli rumah atau apartemen di tengah kota, maka jalan tol mengalami ”penyesuaian skema tarif” yang mengakibatkan pos pengeluaran untuk biaya tol naik hingga 300% . Peningkatan pos pengeluaran sudah berlaku efektif sejak beberapa hari lalu. Penyesuaian tarif ini dilakukan ”demi keadilan” dan demi menjaga iklim investasi jalan tol agar ”tetap menarik minat investor”. Pejabat pemerintah dengan enteng menjawab; kalau tak sanggup bayar, jangan lewat tol!

–> Premi asuransi kendaraan naik hingga 200%, dengan alasan melindungi industri asuransi dari kebangkrutan, tetapi menjebloskan pemilik kendaraan ke arah kebangkrutan. Kenaikan terbesar untuk mobil dengan nilai terendah –yang populasinya terbanyak- yakni mobil dengan nilai di bawah 150 juta. Untuk mobil mewah yang banyak dimiliki petinggi industri asuransi dan para pejabat pembuat keputusan ini, preminya justru turun!

Jujur saja, di benak saya tak ada isi apa-apa, cuma rasa sakit yang luar biasa.

11 Komentar leave one →
  1. September 3, 2007 11:34 pm

    👿
    satu hal yg terbersit dalam pikiran aku adalah..

    aku benci negara yg bernama indonesia ini!!!

    itu aja.. 👿

  2. September 4, 2007 6:42 am

    I had lost my word, bro…

  3. September 4, 2007 10:32 pm

    iya mas.. bener apa kata YLKI bahwa kebijakan lebih mendongak keatas dari pada kebawah…

    “Dengan alasan stabilitas maka rakyat harus berkorban”

  4. September 4, 2007 10:36 pm

    Ehm…

    jujur, saya bisanya cuman misuh-misuh ketika mendengar yang beginian!

  5. September 5, 2007 6:29 am

    @almas
    artinya stablilitas kesejahteraan mereka jangan sampi terganggu.

    @cak peyek
    saya sudah misuh duluan Cak…

  6. September 6, 2007 3:34 pm

    Kalau semuanya naik .. kira2 yang turun apa ya?

  7. September 6, 2007 4:21 pm

    Ada Bang;
    harga diri….

  8. September 7, 2007 9:21 am

    Wah .. kalau harga diri turun .. pertanda kita bukan lagi sebagai sebuah bangsa dong ya? memprihatinkan.

  9. September 7, 2007 9:41 am

    sebuah bangsa sih tetep Bang…
    cuma beda kelas, beda harga…

  10. redhe permalink
    Februari 4, 2008 1:25 pm

    itulah Kebobobrokaan demokrasi..
    sudah..turunkan pancasila…dan ganti sistem negara ini !
    cari sistem lain….sistem yg datangnya dari Sang Pencipta ?
    klo tdk setuju…ya sudah..! hiduplah begini terus….

  11. Februari 4, 2008 1:38 pm

    @redhe
    saya gak bisa mencari korelasi antara demokrasi dan kenaikan harga. Dalam pandangan saya, rasanya kok gak relevan. Salah satu hal penting yang menjadi penyebab distorsi ekonomi Indonesia adalah masih banyaknya praktek ekonomi yang tidak demokratis alias masih banyak monopoli dan oligopoli. Bahwa demokrasi di Indonesia masih dalam tahap belajar, itu rasanya hal lain.

    Sebagai contoh, ada negara-negara maju dan demokratis bisa hidup sejahtera misalnya negara-negara Skandinavia dan Jepang. Meski ada juga yang demokratis tapi ekonominya pas-pasan, misalnya India.
    Ad negara yang sama sekali tidak demokratis tapi relatif makmur, misalnya Singapura, ada juga yang tidak demokratis dan tidak makmur, contohnya negara-negara totaliter di Afrika semacam Zimbabwe.

    Dari contoh di atas, rasanya gak ada hubungan linear yang mengatakan bahwa implikasi demokrasi adalah tingginya harga kebutuhan dan mengakibatkan kemiskinan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: