Skip to content

KRL oh KRL

September 26, 2007

Selama Ramadhan saya menggunakan jasa KRL Jakarta-Serpong setiap hari, dengan maksud hati agar bisa sampai di rumah lebih cepat dan bisa ikut shalat tarawih selepas Isya.

Namun sayang, jadwal yang sama sekali tak pernah bisa ditaati, bahkan jadwal KRL jurusan Serpong yang telah didukung rel gandapun masih sangat berantakan.

Sesuai jadwal perjalanan KRL Sudirman AC, dari stasiun Sudirman menuju Sudimara hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, namun kenyataannya, selain kedatangan KRL yang selalu molor juga waktu perjalanan yang menjadi sekitar 60 menit.

Lambatnya perjalanan ini disebabkan antrian di stasiun Tanah Abang, juga KRL berhenti di stasiun-stasiun yang seharusnya tak berhenti, yaitu stasiun Palmerah dan Kebayoran. Misalnya pada tanggal 24 September 2007, KRL datang selepas berbuka puasa, dan sampai di Sudimara sekitar jam 19.00 WIB. KRL selalu berhenti baik di Palmerah maupun di Kebayoran.

Upaya penggunaan tiket elektronik yang sempat diekspos besar-besaran di media seiring peresmiannya oleh Presiden Yudhoyono ternyata hanya cerita manis di media. Sistem tiket elektronik tak lagi dijalankan, akibatnya peron dipenuhi pedagang, pengamen, dan penumpang tanpa tiket leluasa masuk peron dan naik kereta gratis. Dalam perkiraraan kasar saya, hanya sepertiga penumpang yang membeli tiket, selebihnya adalah penumpang gelap.

Hal ini diperparah dengan petugas yang nyaris tak pernah memeriksa tiket penumpang baik di pintu masuk peron maupun di atas KRL, kalaupun ada pemeriksaan, banyak orang cukup menyelipkan beberapa lebar uang ribuan kepada petugas, maka proses selesai. Bahkan seringkali petugas sama sekali tidak peduli jika penumpang tak bisa menunjukkan tiketnya.

Pernah juga dilaksanakan operasi yang terkesan serius seperti operasi yang dilakukan sekitar 2 hari menjelang Ramadhan dan ketika itu banyak penumpang gelap yang tertangkap. Saya yakin, jika hal ini secara konsisten dilakukan ditambah sistem ticketing di pintu masuk peron yang ketat juga, maka pendapatan PT KAI akan meningkat dan itu bisa dijadikan alasan bagi peningkatan kualitas layanan PT KAI.

PT KAI sebaiknya mengoperasikan rangkaian kereta yang berbeda antara Sudirman-Serpong dan Tanah Abang-Serpong, mengingat kapasitas stasiun Tanah Abang yang padat dan besarnya jumlah penumpang. KRL Sudirman sendiri sudah sangat padat ketika berangkat dari Sudirman, jadi tak perlu lagi harus dijejali penumpang dari Tanah Abang.

Sebenarnya, jika PT KAI konsisten dengan jadwal dan sistem tiket yang ketat, saya yakin akan meninggalkan mobil di rumah dan menggantikannya dengan naik KRL. Namun, kondisi saat ini yang terlihat carut marut membuat saya memilih kembali membawa mobil dan memberi andil bagi kemacetan dan polusi Jakarta.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: