Skip to content

Bocah Penjual Cobek

Desember 10, 2007

Sabtu malam, saya dan istri jalan-jalan ke Plaza Bintaro, saya memilih naik motor agar lebih mudah dan tak terjebak antrian panjang. Padatnya parkiran motor membuat saya memilih parkir di luar Mal, di depan warung-warung tenda.

Selesai membeli sandal rumahan dan kaos kaki buat saya, kami pulang. Sesampai di tempat saya memarkir motor, saya terkesima.

Tepat di depan motor, berdiri seorang anak laki-laki, berusia sekitar 11-12 tahun, agak basah karena hujan rintik-rintik, sebelumnya kawasan Bintaro memang diguyur hujan lebat lebih dari tiga jam.

Saya minta maaf agar ia bisa bergeser sedikit, karena saya ingin mengeluarkan motor. Tapi justru permintaan saya agar ia bergeser itu membuat hati saya bagai teriris. Ia tampak kesulitan memindahkan barang dagangannya. Betul, ia sedang berdagang di bawah hujan rintik-rintik. Rona wajah lelah tak bisa ditutupi.

Yang membuat saya merasa teriris adalah; ia berjualan cobek batu. Cobek adalah alat untuk mengulek bumbu di dapur, terbuat dari batu kali yang berat. Anak kecil itu memilkul sekitar sepuluh buah cobek berbagai ukuran, masing-masing lima buah di sisi kanan dan kiri pikulannya. Bayangkan, betapa rendahnya turn-over berjualan cobek batu. Kita belum tentu setahun sekali membeli cobek batu itu, berapa cobek yang bisa ia jual setiap hari? Serapa keuntungan yang bisa dia raih dibanding beratnya beban cobek yang ia pikul sepanjang hari. Pedih sekali dada ini.

Meski dengan susah payah, ia berhasil menggeser pikulannya. Saya tak sanggup berkata-kata. Sedih sekali. Anak ini seharusnya sedang bermain, maklum ini malam minggu. Saya hanya bisa terdiam dan mengeluarkan uang sekedarnya dari dompet, dan meminta istri saya yang memberikannya. Kami memang tak sedang membutuhkan cobek batu, dan kami tak punya banyak yang bisa kami berikan saat itu.

Sampai di rumah, saya masih terbayang wajah anak itu. Sedih karena tak banyak yang bisa saya lakukan. Sedih, betapa lebih banyak lagi anak-anak yang bernasib sama.

Keadilan tak pernah hadir kepada mereka. Mereka tak pernah ikut merasakan besarnya APBN triliunan rupiah untuk program kemiskinan hasil pencabutan subsidi BBM, mereka tak pernah ikut menikmati hasil korupsi uang negara. Tapi mereka merasakan harga-harga makin mahal, mereka tak kebagian pendidikan, ingat juga mereka kebagian sulitnya mencari sesuap nasi, meski hanya untuk makan hari ini.

12 Komentar leave one →
  1. Star1007 permalink
    Desember 12, 2007 11:03 am

    it’s happened all across the country, dude…

  2. Desember 12, 2007 1:08 pm

    @Star1007
    yup, n pembuat kebijakan di negeri ini sepertinya gak pedulišŸ˜¦

  3. m ilhami permalink
    Desember 13, 2007 3:11 pm

    Kasihan tuh anak, pertumbuhan badannya terganggušŸ˜¦
    Nanti dah gede mau jadi apa?

  4. Desember 13, 2007 3:17 pm

    Jangankan mikir masa depan, dikepalanya jangan-jangan cuma berpikir agar cobeknya terjual dan hari ini ada yang bisa buat beli makanšŸ˜¦

  5. emon permalink
    Maret 8, 2008 11:29 am

    ada juga yang bilang mereka dikoordinir oleh orang-orang tertentu memang untuk mengumpulkan sejumlah uang entah untuk siapa. saya sendiri juga miris dan telah memberi uang pada anak-anak itu. tau deh bener pa gak.

  6. Maret 10, 2008 7:54 am

    @emon
    memang bisa juga demikian. Umumnya yang dikoordinir itu adalah pengemis.
    Kita memberi dengan ikhlas, dengan niatan tulus, jadi Insya Allah bermanfaat. Seandainya kita ternyata “ditpu”, ya sudah, toh niatan kita baikšŸ™‚

  7. chepy permalink
    Agustus 7, 2008 10:44 pm

    saat tau adanya anak2 cobek ini,perasaanku lebih berat dari saat tau adanya lumpur lapindo atau tsunami sumatera, dan serasa kesengasraan sepanjang hidupku langsung sirna karena tak sebanding dengan kesengsaraan anak2 cobek ini (perlu diketahui aku juga bukan orang lebih dari segi finansial),tapi aku bersyukur ternyata aku bukan satu-satunya orang yang peduli but feel can’t do anything,setidaknya sekarang perasaanku lebih ringan sekarang…

  8. Agustus 8, 2008 7:04 am

    @chepy

    Tuhan selalu punya cara untuk bisa bersyukur terhadap anugerah yang begitu banyak kita terima selama ini. Dan ini, salah satu cara-Nya untuk mengingatkan kita lagi.

    Salam…

  9. chepy permalink
    Agustus 13, 2008 11:09 pm

    trus, apa gak ada yang bisa kita lakukan untuk anak-anak cobek ini??? Jika presiden buka situs ini apa kira-kira beliau akan berbuat sesuatu ya? Perlu diingat mereka ini adalah generasi muda penerus bangsa….. Apa bangsa kita kedepannya bakal menjadi bangsa penjual cobek???

  10. chepy permalink
    Agustus 13, 2008 11:15 pm

    Trus, kira-kira apa yang bisa kita lakuin untuk anak-anak cobek ini???? Jika presiden liat situs ini kira-kira beliau bakal lakuin sesuatu gak ya??? Perlu diingat….mereka adalah juga generasi bangsa…… Apakah kedepannya bangsa kita bakal jadi bangsa penjual cobekk???

  11. sinta permalink
    Agustus 13, 2008 11:22 pm

    kami semua mendoakanmu wahai anak2 cobek, semoga kehidupan yang lebih baik akan datang padamu…………

  12. Agustus 14, 2008 9:57 am

    @chepy
    Kalo ada yang bisa kita beri untuk dapat membantu, berikanlah. Jika bisa melakukan lebih dari sekedar memberi, misalnya dijadikan anak asuh, itu lebih baik. Bahkan, dengan menyuarakannya ke ruang publik yang lebih luas, seperti halnya postingan ini, mudah-mudahan bisa membangkitkan rasa kebersamaan dan bisa menjadi jendela informasi bagi pihak-pihak yang ingin membantu.

    @sinta
    amien, ya rabbal ‘alamin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: