Skip to content

Akhir Dominasi Liga Inggris?

November 11, 2008

Liga Inggris saat ini sedang mendapatkan serangan gencar yang membuatnya terpaksa bertahan ala cattenaccio. Krisis finansial global memang memilki domino effect yang merembet kemana-mana termasuk juga sepakbola. Industri sepakbola kini telah menjadi bisnis raksasa dimana investor berani menanamkan modal dalam jumlah besar ke bisnis ini. Dan Liga Inggris menjadi ikon utama bisnis sepakbola saat ini.

Krisis yang menerpa diyakini bisa mempengaruhi sepakbola, khususnya Liga Inggris. Selain investor yang secara langsung menanamkan modalnya ke klub-klub utama, tetapi juga terkait dengan sponsor, misalnya sponsor yang tertera di jersey yang dipakai pemain.

Besarnya ketergantungan klub-klub dan manajemen Liga Inggris inilah yang yakini bisa menjadi masalah dengan adanya krisis. Dampak pertama terlihat ketika klub West Ham United harus merevisi seragam bertandingya akibat sponsor utama, XL Leisure mereka terpaksa mengundurkan diri akibat krisis.

Beruntung bagi Manchester United dan Newcastle United, meski AIG Insurance dan bank Northern Rock terpaksa dinasionalisasi pemerintah masing-masing, kesepakatan sposnsorship yang telah ditandatangani masih bisa berlangsung. Sebagai contoh, MU mendapat 56,5 juta poundsterling untuk memasang logo AIG di jersey mereka selama empat tahun.

Saat ini, hutang klub-klub Liga Inggris ditaksir memiliki total sebesar 2,5 milyar pound berdasarkan data dari konsultan keuangan olahraga terkemuka, Deloitte. Sedangkan menurut taksiran ketua Footbal Association, jumlah itu telah mencapai 3 milyar pound, dimana 1,5 milyar diantaranya adalah hutang 4 klub raksasa; MU, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal.

Hutang yang menumpuk itu disebabkan oleh besarnya biaya akuisisi (seperti MU dan Liverpool), pembangunan stadion baru (Arsenal), serta tingginya biaya transfer dan gaji pemain semakin hari semakin membuat iri (Chelsea). Sebagai contoh, salah satu klub Inggris meningkatkan beban gaji tahun ini sebesar 41% dibandingkan tahun lalu.

Piramida
Pengaruh krisis keuangan ini akan bervariasi bagi masing-masing klub. Pengaruh itu akan berbentuk piramida, dimana klub-klub mapan akan mendapatkan pengaruh yang lebih kecil dibanding klub-klub medioker dan kecil.

Klub-klub besar relatif lebih banyak mendapatkan penghasilan terkait beberapa faktor, yakni dukungan fans banyak dan tersebar di seluruh dunia, hak siar pertandingan yang lebih besar, serta banyaknya pertandingan bergengsi yang diikuti seperti Champions League dan UEFA Cup. Sedangkan klub-klub semenjana hanya berkutat di liga domestik dengan basis dukungan dan cakupan liputan yang terbatas, sehingga penghasilanpun jauh dibawah tim-tim papan atas.

Dampak signifikan mungkin baru akan dialami klub-klub Inggris kemungkinan akan sangat terasa dalam dua tahun ke depan. Hal ini terkait perjanjian sponsorship Premier League yang berlaku setiap tiga tahun, sedangkan perjanjian terbaru dimulai sejak tahun 2007 hingga 2010.

Jika krisis ini tak bisa segera pulih, sulit rasanya bagi FA untuk bisa mencari sponsor yang mampu membayar hak siar yang terus naik secara signifikan. Untuk periode 2007-2010 Sky Sports dan Setanta harus membayar 1,7 milyar pounds untuk siaran domestik dan 625 juta pounds untuk hak siar internasional. Mahalnya hak siar inilah menjadi pangkal hilangnya siaran Liga Inggris secara free to air di Indonesia sejak tahun 2007 lalu.

Turunnya daya beli mayarakat akan berpengaruh pada melambatnya produksi, akibatnya, ancaman pemutusan hubungan kerja juga menghantui ekonomi global. Daya beli yang menurun ini akan mengancam penjualan tiket, merchandise, dan tayangan pay per view.

Inilah saat terbaik buat klub-klub untuk mereview kondisi mereka, termasuk meninjau kembali biaya transfer dan menentukan cap maksimal bagi gaji pemain yang makin tak terkendali. Semoga saja krisis membuat klub-klub Inggris kembali ’melihat ke dalam’, dalam arti berani mengembangkan bakat pemainnya sendiri dan tak lagi sekedar membajak para bintang yang telah jadi seperti yang dilakukan Chelsea.

Perlu diatur pula pola akuisisi klub yang melibatkan hutang agar kasus MU yang terpaksa menanggung hutang keluarga Glazer yang mengambil alih saham MU melalui hutang dan menjadikannya hutang klub. Padahal sebelumnya, MU adalah klub yang tak punya hutang.

Akhir Dominasi?
Perlambatan ekonomi telah membuat banyak pihak menjadi sedikit khawatir akan kelangsungan hingar bingar sepakbola internasional, khususnya Liga Inggris yang saat ini dinilai menjadi liga profesional terbaik dan paling menarik. Bukan tidak mungkin kelak akan ada klub-klub yang terpaksa meminta restrukturisasi hutang-hutang mereka karena revenue yang berhasil dihimpun tak mampu menutupi cicilan hutang.

Pengaruh paling buruk bagi penggemar klub-klub Liga Inggris adalah kemungkinan krisis ini berpengaruh pada prestasi mereka di lapangan. Krisis keuangan bisa membuat klub-klub terpaksa menjual aset, termasuk pemain bintangnya. Menjual pemain bintang tak hanya menghasilkan uang, tapi juga menekan pengeluaran karena gaji mereka yang tinggi. Tetapi ’harga’ yang harus dibayar, yakni menurunnya prestasi klub. Bukan tidak mungkin krisis ini bisa mengakhiri dominasi klub-klub Inggris di kompetisi antar klub Eropa.

2 Komentar leave one →
  1. November 26, 2008 9:13 am

    lega calcio dengan banyaknya pemain lokal, pelatih lokal dan pemilik klub org lokal yg memang benar2 seorang tifosi klub, bkn org yg sekadar mencari keuntungan bisnis semata akan kembali berjaya melewati EPL di masa mendatang……. jose mourinho adalah satu2nya pelatih asing di Seria A. liat EPL, seorang pelatih lokal akan dianggap hebat jk mampu meraih tropy kelas dua seperti FA Cup n Carling Cup.big four dilatih pelatih asing semua. pelatih timnas pun kebanyakan dari pelatih asing. pemilik the big four pun org asing semua yg dimata mrk sepakbola adalah bisnis. apabila induk bisnis mrk mandeg maka klub akan kena getahnya, pemain bintang pun akan dijual demi mendapatkan dana segar n mengurangi pengeluaran yg besar dari gaji mrk akibatnya prestasi klub bs turun.
    EPL adalah Liga Pemain Asing, Pelatih Asing, dan Persaingan Pemilik Modal Asing….. klo semua asing, produk lokalnya ga bakalan punya tempat untuk bersaing. akibatnya prestasi timnas inggris ga kunjung2 menemukan titik terang.
    bandingkan dengan prestasi prancis dan italia di eropa, atau argentina n brazil di benua amerika sono……
    saatnya produk lokal bicara
    bravo ITALIA

  2. Desember 1, 2008 1:33 pm

    @Gayun W
    Premis Anda mungkin bisa menjelaskan mengapa prestasi timnas Inggris saat ini kurang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: